Kamis, 23 Oktober 2014

TARI PECUT KERAPAN SAPI

MENGENAL TARI PECUT MADURA

Oleh : Hadi dwi prasetyo


             Tari pecut merupakan sebuah tarian yang dilakukan secara massal oleh remaja putra dan putri dengan gerakan-gerakan yang syarat dengan makna penghormatan terhadap tamu, masyarakat yang agamis, dan pencerminan manusia sebagai makhluk sosial. Tari pecut ini menggambarkan proses perjalanan hidup manusia yang didalamnya akan mendapatkan pengalaman hidup, sebagai penentu perilaku selanjutnya didalam menjalani kehidupan dimana pesan-pesan yang yang terdapat pada tari pecut mengacu pada tingkah laku manusia itu sendiri terhadap sesama, alam semesta dan terhadap sang Pencipta yang menyimbolkan karakter masyarakat Madura yang berjiwa sosial tinggi terhadap sesama dan masyarakat yang agamis dalam segala segi kehidupannya.
Gerakan Tari Pecut
       Tari pecut adalah sebuah bentuk tari yang merupakan satu kesatuan gerak tari, dimana keberadaan gerak tersebut saling terkait erat antara gerak yang satu mendukung gerak yang lainnya. Keseluruhan gerak tersebut melahirkan keutuhan makna dari pertunjukan tari pecut. Adapun gerak yang dilakukan sangat sederhana, hal ini merupakan salah satu ciri pertunjukan jenis tari rakyat yakni gerak tari yang sederhana, sebagian besar merupakan pengulangan gerak, tidak terlalu mementingkan keindahan dan yang diperlukan hanya tercapainya kehendak serta tujuan yang dimaksud.
Tari pecut sebagai hasil kreasi seni budaya masyarakat Madura tidak lepas keberadaannya dengan tradisi karapan Sapi yang melatarbelakangi lahirnya tari pecut.  















Di Dalam tari pecut terdapat beberapa bentuk simbol berupa gerakan yang mempunyai arti yaitu:

1.Gerak Tabur Bunga mempunyai makna menyambut tamu istimewa
Gerakan saat Doa mempunyai makna bahwa setiap sesuatu harus di awali degan doa kepada Tuhan sebagai cerminan masyarakat yang agamis.
Tongghul Pecut maknanya orang Madura yang teguh pendirian.
2.Gerak Onclang mempunyai makna setiap manusia yang saling membutuhkan, tolong menolong dan menghargai sesama sebagai ciri makhluk sosial.
3.Gerak Tabangan mempunyai makna menggambarkan kesiapan manusia dalam menghadapi tantangan hidup.
4.Gerak Mokol Sape mempunyai makna keharmonisan atau keselarasan dalam kehidupan dengan menjaga hubungan baik antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
5.Gerak Kemenangan bermakna sebagai rasa ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur kepada Tuhan.
Gaya Busana dan Tata Rias
Gaya busanasebuah tarian dapat menentukan karakter dan ciri khas setiap tarian yang ditampilkan.
 Iringan Musik
Iringan musik pada tari pecut biasanya menggunakan tabuhan thuk-thuk dan musik saronen khas Madura.

     Adapun busana yang digunakan penari pada tari pecut yaitu:
Kostum yang dipakai oleh pemain musik sama dengan penari putra. Dalam pertunjukan tari pecut penari putra tidak di make up sedangkan penari putri menggunakan tata rias yang sudah ada seperti sekarang.

Rabu, 22 Oktober 2014

SARONEN KERAPAN SAPI


SARONEN

Oleh : Hadi dwi prasetyo

      Madura adalah salah satu pulau di Indonesia yang kaya akan ragam budaya, salah satu budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan keberadaannya adalah saronen.Dalam sebuah buku yang berjudul “ Lebur; Seni Budaya dan Musik Madura” karangan Helene Bourvier. Saronen adalah sebuah alat musik yang berasal dari timur tengah yang mana pada daerah asalnya ia di kenal dengan beraneka ragam nama yaitu surnai,sirnai,sarune,shahnai dan lain sebagainya.
Instrumen itu berbentuk kerucut dari pohon jati dengan enam lubang berderet di belakang dan satu lubang di belakang. Seperti sebuah terompet, meskipun pada dasarnya saronen adalah satu alat yang serupa terompet. Namun orang-orang Madura menyebut nama saronen untuk keselruhan permainan musik tersebut.
Musik saronen muncul karena kreatifitas orang Madura yang kemudian menjadikan musik saronen khas Madura. Kata saronen tersebar ke pulau jawa dan Madura seiring dengan nusantara lainnya, karena itulah setiap nusantara memilki perbedaan budaya dalam memainkan saronen.

Saat ini budaya saroenen mengalami pergeseran perbedaan kostum, dimana pada sekitar tahun 80-an kostum yang dipakai para pemain music saronen adalah kostum-kostum yang berkarakter, sedangkan sekarang mulai diruabh pada kostum-kostum yang berbau modern.







Prosesi Saronen

Saronen yang umum di adakan di sekitar masyarakat Madura adalah ketika :
       Pertama. Ajang Sapi Sono’ (lomba kecantikan sapi) atau biasa di sebut sebagai “ Lotrengan” oleh orang Madura yaitu sebuah arisan sapi sono yang melombakan sapi.Biasanya saronen yang mengiringi sapi sono berada di belakang sapi sono sambil mengiringi dengan berjalan perlahan-lahan. Dalam prosesi ini akan terlihat keunikan tersendiri karena dengan sendirinya sapi akan menggerakkan tubuhnya seiring dengan alunan musik Saronen.

   Kedua, Kerapan Sapi ; dalam acara ini Saronen berperan sebagai pengiring hiburan .Ketiga,Pernikahan; dalam acara pernikahan biasanya Saronen mengiringi pasangan pengantin yang menaiki kuda dan berarak mengitari perkarangan rumah atau jalan.Keempat,Nadzar ingin menziarahi kubur. Hal ini biasa di lakukan oleh masyarakat Madura pada zaman dahulu kala.Kelima,Khitanan yang terkadang di adakan dalam rangka hiburan semata.

Alat-alat musik Saronen dan maknanya
      Umumnya dalam Saronen terdiri atas lima orang pemain yang memainkan beberapa alat musik saronen. Seyogyanya Saronen adalah sebuah alat musik yang mewakili seluruh iringan alat musik lainnya. Itulah alasannya kenapa di sebut Saronen oleh orang Madura .Beberapa alat Saronen yang di butuhkan adalah :

Saronen
      Alat ini terbuat dari akar kayu jati pilihan karena bentuk Saronen yang di hasilkan akan lebih bagus dan halus.Saronen merupakan sumber dari segala irama ketika di mainkan.. Dalam Saronen ini terdapat sembilan lubang yang berjejer dari atas ke bawah yang memiliki makna bahwa setiap manusia berdasarkan fitrahnya memiliki 9 lubang di setiap anggota tubuhnya. Berawal dari mata, hidung, kuping , mulut dan alat vital.
Selain itu juga berarti “ Bismillahirrahmanirrahim” yang mempunyai 9 suku kata ketika di ucapkan.dan ,hubungan makna Bismillahirrahmanirrahim dan 9 lubang pada Saronen adalah menyimbolkan seorang manusia yang pada hakikatnya tidak pernah lepas dari bacaan basmalah ketika hendak melakukan sesuatu. Saronen di tiup oleh mulut. .Bahan peniup Saronen adalah kulit kelapa yang keras (batok) dan pohon siwalan (ra kara) yang berbentuk seperti kumis. Jika bahan dari peniup tersebut merupakan bahan-bahan yang baik dan cermat ketika membuatnya maka di percayakan akan menghasilkan bunyi yang baik dan enak di dengar.

Ghung
     Sebelum saronen di mainkan ketua Saronen akan meneriakkan kata “ ghung” sebagai tanda “ mengajak teman-teman untuk bersiap-siap “ . Dalam alat ini tedapat dua ghung yang dimainkan yaitu ghung raje dan ghung kene. Sebagian orang juga menyebutkan tabbhuwen kene’ dan tabbhuwen raje. Ghung raje yang berbentuk bulat dan besar memiliki makna “Seorang Bapak”. Ini menandakan bahwa seorang bapak yang sering memberikan arahan dan nasihat kepada keluarganya. Hal ini di hubungkan karena ghung raje sering mengiringi ala tmusik lainnya. Sedangkan ghung kene’memiliki makna “ Seorang Ibu” . Menandakan bahwa seorang ibu yang selalu mengiyakan kata-kata suami (Bapak).

Gendhang
     Alat ini memiliki makna yang sangat unik karena di analogikan sebagai “Orang Mati”. Hal itu di karenakan bentuknya yang tertutup di atas dan bawah serta besar di tengah.Makna yang terkandung dalam gendhang ini adalah bahwa dalam keadaan apapun manusia memiliki akhir hayat yang akhirnya di analogikan seperti gendhang.

Kercah
     “ Mekker Ma’leh Peccah “ sebuah simbal kecil yang dimainkan oleh kedua belah tangan dengan cara saling di pukul . Alat tersebut mempunyai makna bahwa manusia hendaknya selalu berpikir sebelum melakukan sesuatu. Hal ini agar apapun yang kita lakukan akan berhasil baik. Seiring dengan hal itu maka tak luput dengan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar masalah apapun yang kita hadapi dapat terselesaikan berkat ridha-Nya.
A. Sejarah
Saronen merupakan alat musik yang berasal dari Timur Tengah. Di daerah asalnya dikenal dengan berbagai nama, seperti surnai, sirnai, sarune, dan shahnai. Saronen juga dianggap sebagai kesenian yang berasal dari desa Sendang, kecamatan Pragaan. Saronen berasal dari kata Senninan, (hari Senin). Kala itu, kyai Khatib Sendang (cicit Sunan Kudus), menciptakan orkes ini sebagai media dakwah untuk penyebaran agama Islam. Setiap hari pasaran yang jatuh pada hari Senin, Kyai Khatib menggunakannya dalam upaya menarik massa. Pertama kali yang dilakukan oleh Kyai yang inovatif ini, acara diawali dengan munculnya dua badut. Kedua badut ini, menari dan menyanyi serta melawak. Adapun materi lawakan banyak berisi sindiran dan kritikan tentang situasi dan kondisi serta kebijakan pemerintahan pada masa itu. Untuk meramaikan dan menambah semarak adegan-adegan yang dibawakan kedua badut tersebut, maka acara tersebut diselingi musik yang mampu membangun suasana menjadi riang gembira. Setelah massa terkumpul, barulah kyai Khatib Sendang memulai dakwah. Sehingga pada waktu itu banyak sekali yang tertarik, kemudian menyatakan diri untuk mengikuti ajaran agama Islam. Tentu saja, kyai Khatib dalam menciptakan instrumen musik Saronen menyesuaikan dengan karakter masyarakat Madura. Suku Madura merupakan sosok yang terkenal mempunyai watak keras, polos, terbuka dan hangat. Sehingga, jenis musik riang dan ber-irama mars menjadi pilihan yang paling pas. Dan dalam perkembangannya, musik Saronen menjadi musik yang sangat digemari dan merakyat serta menjadi trade mark musik Madura.
Tok-tok dimainkan anak-anak untuk membangunkan warga untuk makan sahur. Mereka menabuh tok-tok sambil bernyanyi lagu-lagu Madura berkeliling kampung.

Gamelan Madura diadopsi dari Gamelan Jawa, dan merupakan karya ciptaan bangsawan keraton yang memiliki hubungan kekerabatan dengan bangsawan Jawa. Hubungan keraton Sumenep (dan juga keraton Bangkalan) dengan keraton Solo (terutama jaman Mataram) sangat memungkinkan masuknya jenis kesenian seperti: gamelan, tembang macapatan, wayang topeng, bahkan hingga tayuban. Namun ketika keraton “kosong(kaum bangsawan menyingkir ke desa-desa akibat politik islamisasi yang mengakibatkan runtuhnya pengaruh bangsawan di mata rakyat), maka kesenian itu justru lebih berkembang di desa-desa meskipun telah mengalami berbagai transformasi.









Bentuk Kesenian
***Saronen***
Musik instrumentalia Saronen terdiri dari 9 alat musik dengan nilai filosofi Islam yang sangat kental. Karena ke-sembilan alat musik tersebut adalah pengejawantahan ayat pendek yang menjadi pembuka Al Qur’anul Karim, yaitu Bismillahhirrohmanirrohim. Adapun ke-9 alat musik tersebut terdiri dari ; 1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar dan 1 gendang dik gudik (kecil).Kesembilan alat musik tersebut menjadi perpaduan yang harmonis, sedangkan yang menjadi ruh dari orkes ini adalah alat musik Saronen yang berbentuk kerucut.
 Dalam perkembangannya, alat musik yang terdiri dari 9 unsur tersebut mengalami penambahan sehingga menjadi 12 alat musik. Yaitu dengan penambahan 1 alat musik saronen serta 1 alat musik kempul. Begitu pula dengan jumlah penabuh/pemusik. Orkes Saronen yang tetap memakai komposisi (versi) lama, menggunakan alat musik sebanyak 9 dengan penabuh sebanyak 9 personel. Masing-masing membawa satu alat musik, sedangkan gong dan kempul dipikul oleh dua penabuh, yang secara bergantian memukul alat musik tersebut. Sedangkan yang menggunakan komposisi (versi) baru alat musik berjumlah 12, serta penabuh/pemusik juga berjumlah 12 orang.
Irama yang dihasilkan dari instrumen musik Saronen dipakai sebagai pengiring kegiatan Kerapan Sapi, atraksi Sapi Sono’, berbagai upacara ritual di makan keramat, acara pesta perkawinan ataupun dalam event-event kesenian. Selain itu orkes musik Saronen dapat berdiri sendiri dengan menyajikan berbagai bentuk tontonan yang menarik dan atraktif. Yaitu dengan cara memodifikasi berbagai unsur gerak, baik seni tari, seni hadrah maupun seni bela diri silat dalam kemasan gerak tari sesuai irama musik yang dimainkan. Instrumen musik ini sangat kompleks dalam penggunaannya. Katakanlah musik serba guna yang mampu menghadirkan berbagai nuansa sesuai dengan kepentingan. Begitu pula dengan lagu-lagu yang dibawakan, musik. Saronen mampu mengiringi lagu-lagu dari berbagai aliran musik, baik itu keroncong, dangdut, pop, rock and rool maupun lagu-lagu daerah lainnya. Lagu-lagu keroncong yang ber-irama mendayu-dayu misalnya, mampu digubah dalam irama mars yang dinamis.

Dalam setiap atraksi, orkes Saronen ini mampu membangun serta menciptakan suasana yang hangat dan gembira. Ketika berjalan mengikuti iring-iringan pasangan sapi, baik Kerapan Sapi atau Sapi Sono’, upacara-upacara ritual, mengiringi atraksi kuda Kenca’ ataupun arak-arakan para pemusik ini berjalan dengan langkah-langkah pendek sambil berlenggak-lenggok mengikuti irama, gerakan-gerakan itu disesuaikan dengan irama lagu yang dibawakan.

Alat musik Saronen biasanya dipakai sebagai pembuka komposisi dengan permainan solo. Suaranya yang sedikit sengau dan demikian keras, meloncat-loncat, melengking-lengking dan meliuk-liuk dalam irama yang menghentak. Baru setelah itu diikuti oleh pukulan alat musik lainnya, pukulan gendang, kenong, ketukan kerca dan simbal. Perpaduan alat-alat musik tersebut menghasilkan keselarasan irama pada seluruh orkes. Setiap komposisi musik yang dimainkan, di awali dalam tempo lamban yang berubah menjadi tempo medium, lalu semakin cepat, atau sebaliknya, permainan diawali langsung dalam tempo medium langsung berubah menjadi cepat dan berakhir dengan tempo yang semakin cepat untuk seluruh orkes. Permainan yang sangat variatif dan penuh improvisasi dari para pemain, serta teriakan yang dilontarkan para pemain menambah kegairahan pada irama yang sudah melengking dan meloncat-loncat. Dalam setiap permainan, setiap komposisi lagu berakhir seketika, dalam arti semua instrumen berhenti pada saat yang sama.

Seperti halnya instrumen musik lain, Saronen dapat dimainkan sesuai dengan jenis irama yang diinginkan. Walaupun sangat dominan memainkan jenis irama mars, dalam bahasa Madura irama sarka’, Saronen ini mampu menghasilkan jenis irama lainnya, yaitu irama lorongan (irama sedang). Jenis irama ini terdiri dari dua, yaitu irama sedang “lorongan jhalan dan irama slow ‘lorongan toju’. Masing-masing irama tersebut dimainkan di berbagai kegiatan kesenian dengan acara serta suasana yang berbeda.
          Untuk irama sarka’, biasanya dimainkan dalam suasana riang dan permainan musik cepat dan dinamis. Tujuannya adalah memberikan semangat dan suasana hangat. Adapun semua lagu dapat digubah dalam irama sarka’. Sementara itu, untuk jenis irama lorongan, baik lorongan jhalan (sedang) atau lorongan toju’ (slow), lagu-lagu yang dimainkan biasanya berasal dari berbagai lagu gending karawitan. Ketika mengiringi kerapan sapi menuju lapangan untuk berlaga, irama sarka’ ini dimainkan untuk memberikan dorongan semangat, baik kepada sapi atau pun pemilik serta para pengiringnya. Begitu pula ketika orkes Saronen mengiringi sepasang pengantin, irama ini dimainkan sampai sepasang pengantin itu mencapai pintu gerbang. Musik berirama sarka’ ini, mampu menciptakan suasana hangat dan kegembiraan bagi penonton.

Sedangkan irama lorongan jhalan (irama sedang), biasanya dimainkan pada saat dalam perjalanan menuju lokasi. Baik ketika sedang mengiringi sapi kerapan ataupun atraksi sapi sono’. Selain itu, irama ini dimainkan ketika mengiringi atraksi kuda kenca’ atau pun di berbagai acara ritual yang berkaitan dengan prosesi kehidupan manusia. Adapun lagu-lagu yang dimainkan berasal dari lagu-lagu gending karawitan, seperti gending Nong-Nong, Manyar Sebuh, Lan-jalan ataupun Bronto Sewu.
Irama lorongan toju’, biasanya memainkan lagu-lagu gending yang berirama lembut (slow). Jenis irama ini dipakai untuk mengungkapkan luapan perasaan yang melankonis, rindu dendam, suasana sedih ataupun perasaan bahagia. Irama lorongan toju’ biasa dimainkan ketika mengiringi pengantin keluar dari pintu gerbang menuju pintu pelaminan. Adapun gending-gending yang dimainkan adalah alunan gending Angling, Rarari, Puspawarna, Kinanti, Gung-Gung dan lainnya.

Dalam setiap penampilan agar semakin memikat, biasanya para pemain menggunakan seragam yang sama. Untuk acara-acara ritual, para pemain biasanya memakai odheng Madura dan bersarung, ada juga yang mengenakan celana dan baju hitam longgar khas petani Madura serta berkaos dengan motif garis-garis panjang berwarna merah putih. Namun di kalangan kaum muda biasanya mereka tampil lebih modern, dengan mengenakan pakaian warna-warna terang dan mencolok serta memakai rompi yang dihiasi oleh rumbai-rumbai benang emas. Penampilan mereka semakin keren dengan memakai kaca mata hitam serta topi lakan.

Khusus musik Saronen, kaum muda (yang tinggal di pedesaan) tidak merasa malu ketika menggeluti musik ini. Karena jenis irama yang dimainkan dapat disesuaikan dengan perkembangan musik yang sedang ngetren. Disamping itu musik etnik ini mampu dimainkan, dimodifikasi dan diimprovisasi ke berbagai aliran musik. Sehingga irama yang dihasilkan memenuhi selera masyarakat baik yang menyukai jenis musik dangdut, pop, keroncong, karawitan/gendingan/tembang ataupun aliran musik kontemporer.



Minggu, 19 Oktober 2014

Kerapan sapi, tradisi madura

Sejarah kerapan sapi

   Awal mula kerapan sapi dilatar belakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan
pertanian, sebagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan matapencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang.
Suatu Ketika seorang ulama sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur) yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal dengan masyarakat madura dengan sebutan "nanggala" atau "salaga" yang ditarik dengan dua ekor sapi. Maksud awal diadakannya Karapan Sapi adalah untuk memperoleh sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah. Orang Madura memelihara sapi dan menggarapnyadisawah-sawah mereka sesegera mungkin. Gagasan ini kemudian menimbulkan adanya tradisi karapan sapi. Karapan sapi segera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang musim panen habis. Karapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen.
Konon pada era pemerintahan Pangeran Katandur di keraton Sumenep pada abad ke-15 (1561 M), Raja arif bijaksana ini senantiasa memikirkan cara agar para petani dapat meningkatkan produksi pertanian. Karena pada masa itu, cara bercocok tanam masih sangat sederhana, yakni menggunakan peralatan serba batu. Sang Pangeran, akhirnya menemukan ide cemerlang.

        Setelah berembuk dengan para cerdik pandai, maka dititahkan kepada ahli pertukangan untuk membuat alat yang terbuat dari bambu. Dan alat tersebut ditarik oleh dua ekor sapi, diharapkan dengan bantuan alat tersebut akan mampu mengurangi beban kerja petani. Maka terciptalah sebuah peralatan , yaitu bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi.
Pangeran Katandur, adalah seorang pemimpin yang penuh dengan pemikiran kreatif dan inovatif. Ketika melihat sebagian rakyatnya berkurang kesibukannya seusai panen, terpikir oleh Sang Pangeran untuk memanfaatkan waktu luang dan terbuang tersebut. Semacam keramaian sekaligus kegiatan rekreasi, yang nantinya akan mampu meningkatkan produksi, baik produki peternakan maupun produksi pertanian.
Ide cemerlang pun terlahir, yaitu sebuah bentuk permainan yang mengasyikkan terbentang di benak pikiran sang Pangeran. Permainan yang muncul di pelupuk mata adalah semacam perlombaan. Perlombaan memacu sapi dengan cara memacu berpasang-pasang sapi dalam sebuah areal tegalan yang luas. Dan dalam permainan tersebut, pasangan sapi yang diperlombakan dalam pacuan harus menggunakan peralatan serupa “bajak”, yang biasa dipakai untuk menggarap sawah ladang.
Dalam benak Sang Pangeran, permainan dan perlombaan itu tidaklah jauh kaitannya dengan kegiatan sehari-hari para petani. Dalam arti, bentuk permainan itu nantinya dapat memberikan motivasi dan kecintaan rakyat serta kewajibannya pada sawah ladang. Disamping itu, agar rakyat mampu meningkatkan produksi ternak sapi. Dalam arti, mampu meningkatkan hasil ternak sapi yang sehat, sehingga dapat diadu larinya juga mampu menghasilkan daging sapi bermutu tinggi.
Gagasan Pangeran Katandur terwujud, mula-mula penggandeng pasangan sapi itu terbuat dari bambu. Bentuknya pun serupa bajak. Tetapi ujung bawahnya dibuat rata, sehingga tidak mendongkel tanah. Alat tersebut dinamakan “Kaleles”. Sejak saat itulah, kerapan sapi menjadi perlombaan dan permainan rakyat yang sangat digemari. Pada umumnya perlombaan ini diadakan seusai panen.
Dari masa ke masa, pacuan Kerapan Sapi menjadi bentuk pesta hiburan rakyat dan menjadi tersohor seantero jagat. Pada akhirnya identitas pulau madura tidak terlepas dari tradisi budaya rakyat ini. Kisah tentang kejantanan para Joki ketika menunggangi sapi kerapan dalam sebuah arena, memacu pasangan sapi dalam kecepatan tinggi. Kecepatan, ketangkasan, kecekatan, kepiawaian ketika mengendalikan sapi-sapi tunggangan, merupakan sebuah prestasi yang cukup fantastis dan menakjubkan. Tak kalah dengan kepiawaian para matador di gelanggang adu banteng di Spanyol.
Di samping sebagai sarana hiburan, pacuan Kerapan Sapi mampu menanamkan kecintaan rakyat terhadap alam dan lingkungannya, memotivasi sekaligus mengangkat rakyat pada tingkat kemakmuran tinggi. Gagasan Pangeran Katandur yang spektakuler tersebut, ternyata mampu meningkatkan produksi pangan. Karena untuk mendapatkan sapi yang bagus dan mutu daging tinggi diperlukan makanan berkualitas. Dari sektor ini, raja Katandur mampu menggerakkan rakyat untuk melakukan penghijauan serta meningkatkan semangat dan gairah kerja dalam mengolah dan mengelola tanah.
Tak kalah pentingnya adalah peningkatan kualitas ternak. Prioritas utama adalah dalam bidang ilmu beternak sapi. Minat dan perhatian rakyat terpusat pada cara-cara yang baik, praktis dalam pengembang-biakan sapi. Usaha peternakan sapi tidak saja dikaitkan pada kepentingan pertanian semata, tapi juga pada bibit-bibit sapi yang sehat dan mampu berlari kencang. Pada akhirnya, para peternak bukan hanya mampu menghasilkan sapi yang bagus, berbobot dan mampu berlari kencang, tapi juga mampu mengembangkan ternak yang menghasilkan daging bermutu tinggi. Sampai sekarang daging sapi Madura, dikenal karena sangat lembut dan halus serat-seratnya.
Keberhasilan Pangeran Katandur dalam memicu serta memacu gairah rakyat dalam peningkatan kemakmuran, merupakan sesuatu yang sangat prestisius. Kejeniusannya dalam mengembangkan gagasannya sampai sekarang masih terasa. Pesta rakyat aduan sapi yang sekarang lebih dikenal dengan Kerapan Sapi telah berkembang sedemikian rupa. Karena dengan adanya kerapan sapi ini, telah menggugah dan menggali nuansa seni yang ada dalam diri manusia. Seni tari, seni musik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian acara perlombaan.

Proses Pelaksanaan
      Sampai saat ini pesta permainan rakyat, Kerapan Sapi diadakan setiap tahun. Dari tingkat wilayah terendah sampai tingkat Karesidenan. Seleksi biasanya diadakan dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten sampai tingkat Madura. Konon ketika wilayah Madura masih berada dalam cengkeraman kolonial Belanda, Kerapan Sapi dilombakan dengan pengaturan dan jadwal sedemikian rupa, sehingga puncak kemeriahan perlombaan jatuh pada tanggal 31 Agustus, tepat hari lahirnya ratu Wilhelmina.
Dalam pelaksanaan perlombaan sebagai ajang pesta rakyat, Kerapan Sapi menyedot semua energi dan aktifitas. Jauh-jauh hari sebelum acara diadakan, perhatian terhadap hewan tersebut sangatlah istimewa. Hewan yang akan dilombakan berada dalam pengawasan yang sangat ketat. Dari pola makanan, suspensi penambah stamina berupa jamu dan ramuan sampai pada kesiapan dalam bentuk supranatural, jampi-jampi, mantera-mantera. Hal itu dalam upaya agar sapi nantinya menjadi yang tercepat, terdepan dan menang.

Adapun kesibukan yang dilakukan sebelum acara perlombaan dimulai, antara lain :
Pada malam hari sebelum hari kerapan tiba, pemilik beserta keluarga serta para supporternya membawa pasangan sapi ke arena perlombaan. Pasangan sapi tersebut, diiringi seperangkat gamelan dan saronen. Mereka mengadakan perkemahan, sehingga pada malam hari sebelum hari H tiba, di arena perlombaan menjadi tempat yang sangat meriah. Karena peserta dari daerah lain pun berkumpul disana,
Pada malam tersebut, tak seorangpun dapat tidur. Karena masing-masing orang telah mempunyai tugas dan kewajiban. Terutama petugas perawat sapi, disamping memijat-mijat (massage) juga menjaga pembakaran. Dengan tujuan agar tak seekor nyamuk pun datang mendekat. Bahkan dari sebagian anggota rombongan melakukan tirakat, agar keesokan harinya sapi yang menjadi andalan keluar sebagai pemenang,
Pada pagi hari, sepasang sapi digandengkan pada Kaleles, dan didandani sedemikian rupa sehingga sepasang sapi tersebut ber-penampilan keren, gagah dan menarik. Setelah itu, sepasang sapi tersebut diarak keliling lapangan diiringi oleh bunyi “taktuk”, (semacam seperangkat gamelan) yang bertalu-talu serta Saronen. Tingkah polah para pengiringpun tak kalah meriah, ada yang membisiki sapi dengan rayuan kata-kata indah agar berjuang untuk menang, ada pula yang menari-nari sambil bernyanyi,
Setelah melakukan seremonial mengelilingi lapangan, sepasang sapi tersebut dibawa ke tempat yang teduh, menunggu giliran nomer perlombaan. Semua aksesoris di tubuh sapi ditanggalkan, dan sepasang sapi tersebut telah siap tempur untuk memacu kecepatannya berlari.
Dari masa ke masa dan telah beratus-ratus tahun pesta rakyat Kerapan Sapi ini dilombakan. Tentunya telah terjadi perubahan-perubahan seiring dengan perkembangan jaman. Pada era sekarang tidak lagi melakukan perkemahan pada malam hari, namun sapi-sapi yang akan dilombakan langsung datang pada hari H, saat perlombaan. Selain itu pada awal keberadaan Kerapan Sapi, tidak ada model penyiksaan seperti pada masa sekarang. Untuk memperkencang laju Sapi ketika berlaga, maka dipergunakan pelepah daun pisang (pak-kopak), dibentuk semacam mainan dan menimbulkan suara keras ketika dipukulkan ke punggung sapi. Binatang tersebut benar-benar diperlakukan secara manusiawi.
Berbeda dengan era sekarang “rekeng coccona” sapi (alat pemacu yang digunakan joki) dilengkapi dengan benda-benda tajam. Benda-benda tajam tersebut kemudian ditusuk-tusukkan oleh Joki ke pantat sapi, begitu aba-aba dimulai. Tentu saja sapi-sapi akan lebih memperkencang laju larinya, karena kesakitan. Belum lagi bentuk penyiksaan yang lain, sebelum sapi di lepas berlaga di arena, seluruh bagian badan terutama bagian kepala sapi disiram air cabe atau dibaluri reumason.

Syarat-syarat serta aturan-aturan dalam lomba
           Dalam setiap event lomba, sapi-sapi yang akan diikutsertakan dalam perlombaan biasanya melewati seleksi. Adapun yang melakukan seleksi ialah dokter hewan dari dinas kehewanan. Adapun sapi-sapi yang telah dianggap memenuhi persyaratan antara lain ; tinggi badan sapi minimal 120 cm, berbadan sehat dan berkulit bagus, umur sapi ditentukan dan diketahui dari keadaan gigi, kedua tanduk sapi harus baik dan harus sama, dan yang diperbolehkan dijadikan sapi kerapan berasal dari dataran Madura. Namun untuk saat ini persyaratan diatas bukan menjadi patokan lagi dalam sebuah ajang perlombaan.
Dalam setiap perlombaan diadakan suatu bentuk kepanitiaan perlombaan lengkap dengan dewan juri. Panitia pelaksana biasanya berasal dari pihak Pemerintah Daerah, apabila dilaksanakan dalam even kabupaten dan pihak kecamatan apabila dilaksanakan dalam even kecamatan. Adapun komposisi kepanitiaan berasal dari unsur dinas instansi, Muspika dan dibantu oleh Dinas Kehewanan. Tidak menutup kemungkinan kepanitiaan dibentuk oleh masyarakat pecinta sapi kerapan (swasta), apabila ditengarai ada unsur tidak adil apabila panitia pelaksana berasal dari unsur pemerintah.

Adapun ketentuan lain yang diatur dalam setiap perlombaan, adalah :
1. Sepasang Sapi Kerapan dinyatakan sebagai pemenang, apabila kaki depan telah menginjak atau melompati garis finis.
2. Sepasang sapi harus tetap dinaiki oleh seorang joki, mulai dari start sampai finis .walaupun sepasang Sapi Kerapan telah sampai ke garis finis, tetapi tanpa joki (sebab jatuh di tengah arena), akan dinyatakan kalah.
3. Setiap joki diberi selempang dengan warna berbeda-beda, ada selempang berwarna merah, kuning dan hijau.
4. Untuk mendapatkan pemenang, diadakan babak penyisihan. Yang menang dimasukkan dalam satu pool pemenang, demikian pula yang kalah. Untuk babak berikutnya, pemenang akan diadu dengan pemenang, yang kalah diadu dengan yang kalah. Sehingga setelah acara perlombaan usai, maka akan di dapat pemenang sebanyak 6 pasang, yaitu juara I, II dan III dari golongan pemenang dan juara I, II dan III dari golongan kalah.
5. Perlombaan dimulai apabila petugas pemegang bendera di garis start melambaikan bendera dari arah bawah keatas.

Adapun tugas dan tanggung-jawab dewan juri, antara lain :
* Beberapa anggota dewan juri bertugas di garis finis, untuk meneliti kaki sapi yang pertama kali menginjak atau melompati garis finis.
* Diatas panggung ada beberapa anggota dewan juri, sebagai dewan hakim yang berwenang memutuskan sapi pemenang dengan memegang bermacam bendera dan ber tugas mengacungkan warna bendera yang sama dengan selempang joki pasangan sapi yang dinyatakan sebagai pemenang.
Atraksi di arena kerapan sungguh sangat menegangkan, mengasyikkan sekaligus menakjubkan. Bagaimana tidak ? Ketika dua atau tiga pasang sapi dilepas di tengah arena, berpacu dengan kecepatan tinggi, setelah tiba di garis finis harus ditahan laju kekencangan berlarinya. Agar tidak menabrak kian kemari dan menimbulkan korban berjatuhan. Dari arena itu, dapat disaksikan kepiawaian para joki dalam mengendalikan laju sapi tunggangannya juga kemahiran serta ketangkasan para petugas dalam mengendalikan perlombaan tersebut. Dan dapat dilihat pula, betapa mahir para pelatih hewan dalam menanamkan disiplin yang tinggi pada sapi-sapinya.
Di setiap kabupaten dalam wilayah Madura, terdapat lapangan kerapan yang dipergunakan dalam setiap even lomba. Lapangan Kerapan Sapi dilengkapi dengan tribune yang dibangun agak tinggi, sehingga penonton dengan leluasa dapat menyaksikan pertunjukan dari atas, tanpa takut ditabrak oleh sepasang sapi yang sedang berpacu. Di tepi lapangan juga dibatasi pagar bambu, dimana para supporter dari masing-masing sapi bergabung dengan para penonton untuk memberikan semangat kepada sapi yang sedang berlaga, teriakan-teriakan massa membahana, riuh rendah, bergemuruh, bersamaan dengan kecepatan sapi yang sedang berpacu.
Suasana yang demikian itulah, menjadi salah satu daya tarik luar biasa. Karena dalam arena ini, yang dipertontonkan adalah ketangkasan, ketangguhan, keuletan, kegigihan dan kelihaian untuk menjadi yang tercepat dan terdepan. Ekspresi urakan, kesangaran, hura-hura terekspos begitu nyata. Sebuah kompetisi yang menguras semua energi, pikiran, tenaga serta emosional massa.
Dibalik kemeriahan dalam arena Kerapan Sapi, ada satu makna filosofi yang sangat mendalam. Yaitu untuk mencapai sebuah tujuan atau cita-cita perlu adanya satu kekompakan dan kebersamaan. Satu tujuan cita-cita akan tercapai apabila berada dalam satu komando. Joki merupakan gambaran sang komando dengan mengendarai sapi tunggangan sebagai alat dalam mencapai tujuan. Dengan melintasi garis lurus (sapi berlari lurus), dipandu oleh Joki. Diumpamakan, garis lurus tersebut adalah pengejawantahan agar manusia senantiasa berada dalam lintasan yang lurus.
Gambaran Joki sebagai komando diperjelas lagi dengan posisi kaki kiri Joki, diletakkan di Kaleles (nangkring), sedangkan kaki kanan merangkul di Kaleles yang melengkung. Ini merupakan gambaran (tipikal) seorang komando (pemimpin) yang harus berdiri tegak diatas yang dipimpinnya, juga merangkul sekaligus memiliki terhadap komponen yang dipimpinnya.
Dalam arti yang lebih lugas, suatu tujuan akan tercapai dan sukses apabila ada kerjasama, kebersamaan dan kekompakan yang dipandu oleh seorang komando (pemimpin), yang memiliki, merangkul juga melindungi komponen yang dipimpinnya. Sang komando dalam menjalankan kepemimpinannya senantiasa melintasi jalan yang lurus, selalu berada dalam rel kebenaran dan jujur.
Adapun aksesoris sekaligus sebagai alat batu dalam menjalankan sapi kerapan, ialah : Kaleles, Pangonong dan ajer. Kaleles berasal dari bahasa jawa “leles”, yang berarti mengambil sisa. Makna dari Kaleles adalah, seorang komando (pemimpin) harus mendahulukan kepentingan yang dipimpinnya, barulah komando mengambil jatah (sisa) dari bawahannya. Pangonong merupakan pedoman dan Ajer adalah bendera yang akan menjadi tanda sekaligus pemacu semangat. Berkibarnya bendera, adalah gambaran meluapnya semangat dalam meraih suatu tujuan cita-cita.
Dalam even-even tertentu pelengkap kemeriahan pentas rakyat Kerapan sapi, biasanya diadakan bermacam-macam pertunjukan kesenian dan ketrampilan. Diantaranya adalah tarian massal “Tari Pecut”. Tarian ini menggambarkan sebuah ungkapan kegembiraan serta rasa terima kasih para pemilik sapi yang telah berhasil menjadi pemenang. Dan dalam acara tersebut, juga didemonstrasikan ketrampilan sapi betina, yang biasa disebut dengan “Sapi Sono’”. Dalam atraksi ini, sepasang sapi betina akan mempertontonkan kemampuannya memasuki sebuah arena, dengan memanis-maniskan diri, berjalan sambil berjoget serta mengangkat kaki bersamaan ke atas papan.

Kerapan Sapi, Trade Mark Madura
       Pada masa lampau dalam sebuah desa, ada beberapa warga yang memelihara sapi kerapan. Dalam setiap event perlombaan senantiasa melibatkan rumpun keluarga sebagai pendukung dana. Dana yang dikeluarkan untuk pembiayaan selama perlombaan, menjadi tanggung jawab bersama. Pada masa sekarang hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memelihara sapi kerapan. Hal itu disebabkan oleh biaya pemeliharaan yang sangat mahal. Belum lagi biaya ketika sapi-sapi tersebut berlaga dalam sebuah arena. Semua biaya dalam proses tersebut langsung di tanggung oleh pemilik sapi, biaya makan, biaya musik pengiring, biaya transportasi dan sebagainya. Maka tidaklah mengherankan, kalau saat ini hanya orang-orang berduit, ataupun para pejabat saja yang mampu memelihara Sapi Kerapan.
Walaupun demikian Kerapan Sapi tetap merupakan sebuah pesta rakyat dan mampu menyedot perhatian rakyat di dataran pulau Madura. Hal itu dapat dilihat, setiap event perlombaan yang diadakan di tingkat Kecamatan, Pembantu Bupati, Kabupaten atau pun tingkat Madura senantiasa dibanjiri oleh penonton dari semua lapisan masyarakat. Masyarakat dari berbagai kalangan, tumpah ruah, berbondong-bondong mengeluh-elukan sapi yang berasal dari daerahnya. Hal itu disebabkan adanya ikatan emosional yang kuat antara peserta dan penonton yang berasal dari satu wilayah. Tak mengherankan apabila ajang Kerapan Sapi dijadikan simbol status sosial. Selain itu Kerapan Sapi mampu membangun kebersamaan, mempertautkan kembali tali silaturrahim serta menaikkan pamor suku bangsa Madura.
Kerapan Sapi telah menjadi identitas, trade mark dan simbol keperkasaan. Di sektor pariwisata, Kerapan Sapi merupakan pemasok utama Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Karena dari sektor ini, para wisatawan manca negara maupun wisatawan domestik mengeluarkan koceknya, membeli karcis untuk menonton keperkasaan, kelincahan, kecepatan laju sapi, sekaligus menyaksikan kepintaran, kecekatan, kelihaian, kepiawaian para Joki ketika mengendalikan sapi tunggangannya.
Setiap tahun ada acara puncak Kerapan Sapi yang diselenggarakan sekitar bulan Agustus atau September. Acara tahunan tersebut merupakan event paling bergengsi karena memperebutkan piala bergilir dan piala tetap Presiden. Dalam event itu, masing-masing Kabupaten dalam wilayah Madura mengirimkan pasangan sapi terbaiknya. Adapun Sapi Kerapan yang berhak berlaga dalam arena bergengsi tersebut, merupakan hasil seleksi yang ketat dari masing-masing wilayah Kabupaten. Dengan demikian, pasangan sapi kerapan adalah duta dari masing-masing Kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.(Lontar madura)


Macam-macam Karapan Sapi
  1. Kerrap Keni (Karapan kecil) merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kecamatan saja dengan jarak tempuh sekitar 110 meter. Pemenangnya berhak untuk mengikuti even karapan yang levelnya lebih tinggi lagi.
  2. Kerrap Rajah (Karapan besar) merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kabupaten saja dan pesertanya adalah dari para juara Kerrap Keni dengan jarak tempuh sejauh 120 meter.
  3. Kerrap Karesidenan (Gubeng) merupakan karapan sapi yang levelnya tingkat karesidenan yang diikuti oleh juara-juara dari empat kabupaten di Madura. Tempatnya adalah di Bakorwil Madura yaitu di kabupaten Pamekasan dan tepatnya pada hari Minggu yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim karapan.
  4. Kerrap Onjangan (Karapan undangan) merupakan karapan sapi khusus yang pesertanya berasal dari undangan suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Karapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu atau peringatan syukuran dan sejenisnya.
  5. Kerrap Jar-ajaran (Karapan latihan) merupakan karapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi kerap sebelum turun ke even yang sebenarnya.
Karapan Sapi dalam penentuan juaranya adalah di ambil masing-masing 3 Juara, yaitu 3 juara dari golongan menang dan 3 juara dari golongan kalah.