Sejarah kerapan sapi
Awal mula kerapan sapi dilatar
belakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan
pertanian, sebagai
gantinya orang-orang Madura mengalihkan matapencahariannya sebagai nelayan
untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani
khususnya dalam membajak sawah atau ladang.
Suatu Ketika seorang ulama sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (
Pangeran Katandur) yang
memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang
dikenal dengan masyarakat madura dengan sebutan "nanggala" atau
"salaga" yang ditarik dengan dua ekor sapi. Maksud awal diadakannya
Karapan Sapi adalah untuk memperoleh sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah.
Orang Madura memelihara sapi
dan menggarapnyadisawah-sawah mereka sesegera mungkin. Gagasan ini kemudian
menimbulkan adanya tradisi karapan sapi. Karapan sapi segera menjadi kegiatan
rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang musim panen habis. Karapan
Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan
dengan diiringi musik saronen.
Konon pada era pemerintahan Pangeran Katandur di keraton Sumenep
pada abad ke-15 (1561 M), Raja arif bijaksana ini senantiasa memikirkan cara
agar para petani dapat meningkatkan produksi pertanian. Karena pada masa itu, cara
bercocok tanam masih sangat sederhana, yakni menggunakan peralatan serba batu.
Sang Pangeran, akhirnya menemukan ide cemerlang.
Setelah
berembuk dengan para cerdik pandai, maka dititahkan kepada ahli pertukangan
untuk membuat alat yang terbuat dari bambu. Dan alat tersebut ditarik oleh dua
ekor sapi,
diharapkan dengan bantuan alat tersebut akan mampu mengurangi beban kerja
petani. Maka terciptalah sebuah peralatan , yaitu bajak yang ditarik oleh dua
ekor sapi.
Pangeran
Katandur, adalah seorang pemimpin yang penuh dengan pemikiran kreatif dan
inovatif. Ketika melihat sebagian rakyatnya berkurang kesibukannya seusai
panen, terpikir oleh Sang Pangeran untuk memanfaatkan waktu luang dan terbuang
tersebut. Semacam keramaian sekaligus kegiatan rekreasi, yang nantinya akan
mampu meningkatkan produksi, baik produki peternakan maupun produksi pertanian.
Ide
cemerlang pun terlahir, yaitu sebuah bentuk permainan
yang mengasyikkan terbentang di benak pikiran sang Pangeran. Permainan yang
muncul di pelupuk mata adalah semacam perlombaan. Perlombaan memacu sapi dengan
cara memacu berpasang-pasang sapi dalam sebuah areal tegalan yang luas. Dan
dalam permainan tersebut, pasangan sapi yang diperlombakan dalam pacuan harus
menggunakan peralatan serupa “bajak”, yang biasa dipakai untuk menggarap sawah
ladang.
Dalam
benak Sang Pangeran, permainan dan perlombaan itu tidaklah jauh kaitannya
dengan kegiatan sehari-hari para petani. Dalam arti, bentuk permainan itu
nantinya dapat memberikan motivasi dan kecintaan rakyat serta kewajibannya pada
sawah ladang. Disamping itu, agar rakyat mampu meningkatkan produksi ternak
sapi. Dalam arti, mampu meningkatkan hasil ternak sapi yang sehat, sehingga
dapat diadu larinya juga mampu menghasilkan daging sapi bermutu tinggi.
Gagasan
Pangeran Katandur terwujud, mula-mula penggandeng pasangan sapi itu terbuat
dari bambu. Bentuknya pun serupa bajak. Tetapi ujung bawahnya dibuat rata,
sehingga tidak mendongkel tanah. Alat tersebut dinamakan “Kaleles”. Sejak saat
itulah, kerapan sapi menjadi perlombaan dan permainan rakyat yang sangat digemari. Pada
umumnya perlombaan ini diadakan seusai panen.
Dari
masa ke masa, pacuan Kerapan Sapi menjadi bentuk pesta hiburan
rakyat dan menjadi tersohor seantero jagat. Pada akhirnya identitas pulau madura
tidak terlepas dari tradisi budaya
rakyat ini. Kisah tentang kejantanan para Joki ketika menunggangi sapi kerapan dalam sebuah arena, memacu pasangan sapi dalam kecepatan tinggi.
Kecepatan, ketangkasan, kecekatan, kepiawaian ketika mengendalikan sapi-sapi
tunggangan, merupakan sebuah prestasi yang cukup fantastis dan menakjubkan. Tak
kalah dengan kepiawaian para matador di gelanggang adu banteng di Spanyol.
Di
samping sebagai sarana hiburan, pacuan Kerapan Sapi mampu menanamkan kecintaan
rakyat terhadap alam dan lingkungannya, memotivasi sekaligus mengangkat rakyat
pada tingkat kemakmuran tinggi. Gagasan Pangeran Katandur yang spektakuler
tersebut, ternyata mampu meningkatkan produksi pangan. Karena untuk mendapatkan
sapi yang bagus dan mutu daging tinggi diperlukan makanan berkualitas. Dari
sektor ini, raja Katandur mampu menggerakkan rakyat untuk melakukan penghijauan
serta meningkatkan semangat dan gairah kerja dalam mengolah dan mengelola
tanah.
Tak
kalah pentingnya adalah peningkatan kualitas ternak. Prioritas utama adalah
dalam bidang ilmu beternak sapi. Minat dan perhatian rakyat terpusat pada cara-cara
yang baik, praktis dalam pengembang-biakan sapi. Usaha peternakan sapi tidak
saja dikaitkan pada kepentingan pertanian semata, tapi juga pada bibit-bibit
sapi yang sehat dan mampu berlari kencang. Pada akhirnya, para peternak bukan
hanya mampu menghasilkan sapi yang bagus, berbobot dan mampu berlari kencang,
tapi juga mampu mengembangkan ternak yang menghasilkan daging bermutu tinggi.
Sampai sekarang daging sapi Madura, dikenal karena sangat lembut dan halus
serat-seratnya.
Keberhasilan
Pangeran Katandur dalam memicu serta memacu gairah rakyat dalam peningkatan
kemakmuran, merupakan sesuatu yang sangat prestisius. Kejeniusannya dalam
mengembangkan gagasannya sampai sekarang masih terasa. Pesta rakyat aduan sapi
yang sekarang lebih dikenal dengan Kerapan Sapi telah berkembang sedemikian
rupa. Karena dengan adanya kerapan sapi ini, telah menggugah dan menggali
nuansa seni yang ada dalam diri manusia. Seni tari, seni musik telah menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian acara perlombaan.
Proses
Pelaksanaan
Sampai
saat ini pesta permainan rakyat, Kerapan Sapi diadakan setiap tahun. Dari
tingkat wilayah terendah sampai tingkat Karesidenan. Seleksi biasanya diadakan
dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten sampai tingkat Madura. Konon ketika
wilayah Madura masih berada dalam cengkeraman kolonial Belanda, Kerapan Sapi
dilombakan dengan pengaturan dan jadwal sedemikian rupa, sehingga puncak
kemeriahan perlombaan jatuh pada tanggal 31 Agustus, tepat hari lahirnya ratu
Wilhelmina.
Dalam
pelaksanaan perlombaan sebagai ajang pesta rakyat, Kerapan Sapi menyedot semua
energi dan aktifitas. Jauh-jauh hari sebelum acara diadakan, perhatian terhadap
hewan tersebut sangatlah istimewa. Hewan yang akan dilombakan berada dalam
pengawasan yang sangat ketat. Dari pola makanan, suspensi penambah stamina
berupa jamu dan ramuan sampai pada kesiapan dalam bentuk supranatural,
jampi-jampi, mantera-mantera. Hal itu dalam upaya agar sapi nantinya menjadi
yang tercepat, terdepan dan menang.
Adapun
kesibukan yang dilakukan sebelum acara perlombaan dimulai, antara lain :
Pada
malam hari sebelum hari kerapan tiba, pemilik beserta keluarga serta para
supporternya membawa pasangan sapi ke arena perlombaan. Pasangan sapi tersebut,
diiringi seperangkat gamelan dan saronen.
Mereka mengadakan perkemahan, sehingga pada malam hari sebelum hari H tiba, di
arena perlombaan menjadi tempat yang sangat meriah. Karena peserta dari daerah
lain pun berkumpul disana,
Pada
malam tersebut, tak seorangpun dapat tidur. Karena masing-masing orang telah
mempunyai tugas dan kewajiban. Terutama petugas perawat sapi, disamping
memijat-mijat (massage) juga menjaga pembakaran. Dengan tujuan agar tak seekor
nyamuk pun datang mendekat. Bahkan dari sebagian anggota rombongan melakukan
tirakat, agar keesokan harinya sapi yang menjadi andalan keluar sebagai
pemenang,
Pada
pagi hari, sepasang sapi digandengkan pada Kaleles, dan didandani sedemikian
rupa sehingga sepasang sapi tersebut ber-penampilan keren, gagah dan menarik.
Setelah itu, sepasang sapi tersebut diarak keliling lapangan diiringi oleh
bunyi “taktuk”, (semacam seperangkat gamelan) yang bertalu-talu serta Saronen.
Tingkah polah para pengiringpun tak kalah meriah, ada yang membisiki sapi
dengan rayuan kata-kata indah agar berjuang untuk menang, ada pula yang
menari-nari sambil bernyanyi,
Setelah
melakukan seremonial mengelilingi lapangan, sepasang sapi tersebut dibawa ke
tempat yang teduh, menunggu giliran nomer perlombaan. Semua aksesoris di tubuh
sapi ditanggalkan, dan sepasang sapi tersebut telah siap tempur untuk memacu
kecepatannya berlari.
Dari
masa ke masa dan telah beratus-ratus tahun pesta rakyat Kerapan Sapi ini
dilombakan. Tentunya telah terjadi perubahan-perubahan seiring dengan
perkembangan jaman. Pada era sekarang tidak lagi melakukan perkemahan pada
malam hari, namun sapi-sapi yang akan dilombakan langsung datang pada hari H,
saat perlombaan. Selain itu pada awal keberadaan Kerapan Sapi, tidak ada model
penyiksaan seperti pada masa sekarang. Untuk memperkencang laju Sapi ketika
berlaga, maka dipergunakan pelepah daun pisang (pak-kopak), dibentuk semacam
mainan dan menimbulkan suara keras ketika dipukulkan ke punggung sapi. Binatang
tersebut benar-benar diperlakukan secara manusiawi.
Berbeda
dengan era sekarang “rekeng coccona” sapi (alat pemacu yang digunakan joki)
dilengkapi dengan benda-benda tajam. Benda-benda tajam tersebut kemudian
ditusuk-tusukkan oleh Joki ke pantat sapi, begitu aba-aba dimulai. Tentu saja
sapi-sapi akan lebih memperkencang laju larinya, karena kesakitan. Belum lagi
bentuk penyiksaan yang lain, sebelum sapi di lepas berlaga di arena, seluruh
bagian badan terutama bagian kepala sapi disiram air cabe atau dibaluri
reumason.
Syarat-syarat
serta aturan-aturan dalam lomba
Dalam
setiap event lomba, sapi-sapi yang akan diikutsertakan dalam perlombaan
biasanya melewati seleksi. Adapun yang melakukan seleksi ialah dokter hewan
dari dinas kehewanan. Adapun sapi-sapi yang telah dianggap memenuhi persyaratan
antara lain ; tinggi badan sapi minimal 120 cm, berbadan sehat dan berkulit
bagus, umur sapi ditentukan dan diketahui dari keadaan gigi, kedua tanduk sapi
harus baik dan harus sama, dan yang diperbolehkan dijadikan sapi kerapan
berasal dari dataran Madura. Namun untuk saat ini persyaratan diatas bukan
menjadi patokan lagi dalam sebuah ajang perlombaan.
Dalam
setiap perlombaan diadakan suatu bentuk kepanitiaan perlombaan lengkap dengan
dewan juri. Panitia pelaksana biasanya berasal dari pihak Pemerintah Daerah,
apabila dilaksanakan dalam even kabupaten dan pihak kecamatan apabila
dilaksanakan dalam even kecamatan. Adapun komposisi kepanitiaan berasal dari
unsur dinas instansi, Muspika dan dibantu oleh Dinas Kehewanan. Tidak menutup
kemungkinan kepanitiaan dibentuk oleh masyarakat pecinta sapi kerapan (swasta),
apabila ditengarai ada unsur tidak adil apabila panitia pelaksana berasal dari
unsur pemerintah.
Adapun
ketentuan lain yang diatur dalam setiap perlombaan, adalah :
1.
Sepasang Sapi Kerapan dinyatakan sebagai pemenang, apabila kaki depan telah
menginjak atau melompati garis finis.
2.
Sepasang sapi harus tetap dinaiki oleh seorang joki, mulai dari start sampai
finis .walaupun sepasang Sapi Kerapan telah sampai ke garis finis, tetapi tanpa
joki (sebab jatuh di tengah arena), akan dinyatakan kalah.
3.
Setiap joki diberi selempang dengan warna berbeda-beda, ada selempang berwarna merah, kuning dan hijau.
4.
Untuk mendapatkan pemenang, diadakan babak penyisihan. Yang menang dimasukkan
dalam satu pool pemenang, demikian pula yang kalah. Untuk babak berikutnya,
pemenang akan diadu dengan pemenang, yang kalah diadu dengan yang kalah.
Sehingga setelah acara perlombaan usai, maka akan di dapat pemenang sebanyak 6
pasang, yaitu juara I, II dan III dari golongan pemenang dan juara I, II dan
III dari golongan kalah.
5.
Perlombaan dimulai apabila petugas pemegang bendera di garis start melambaikan
bendera dari arah bawah keatas.
Adapun
tugas dan tanggung-jawab dewan juri, antara lain :
*
Beberapa anggota dewan juri bertugas di garis finis, untuk meneliti kaki sapi
yang pertama kali menginjak atau melompati garis finis.
*
Diatas panggung ada beberapa anggota dewan juri, sebagai dewan hakim yang
berwenang memutuskan sapi pemenang dengan memegang bermacam bendera dan ber
tugas mengacungkan warna bendera yang sama dengan selempang joki pasangan sapi
yang dinyatakan sebagai pemenang.
Atraksi
di arena kerapan sungguh sangat menegangkan, mengasyikkan sekaligus
menakjubkan. Bagaimana tidak ? Ketika dua atau tiga pasang sapi dilepas di
tengah arena, berpacu dengan kecepatan tinggi, setelah tiba di garis finis
harus ditahan laju kekencangan berlarinya. Agar tidak menabrak kian kemari dan
menimbulkan korban berjatuhan. Dari arena itu, dapat disaksikan kepiawaian para
joki dalam mengendalikan laju sapi tunggangannya juga kemahiran serta
ketangkasan para petugas dalam mengendalikan perlombaan tersebut. Dan dapat
dilihat pula, betapa mahir para pelatih hewan dalam menanamkan disiplin yang
tinggi pada sapi-sapinya.
Di
setiap kabupaten dalam wilayah Madura, terdapat lapangan kerapan yang
dipergunakan dalam setiap even lomba. Lapangan Kerapan Sapi dilengkapi dengan
tribune yang dibangun agak tinggi, sehingga penonton dengan leluasa dapat
menyaksikan pertunjukan dari atas, tanpa takut ditabrak oleh sepasang sapi yang
sedang berpacu. Di tepi lapangan juga dibatasi pagar bambu, dimana para
supporter dari masing-masing sapi bergabung dengan para penonton untuk
memberikan semangat kepada sapi yang sedang berlaga, teriakan-teriakan massa
membahana, riuh rendah, bergemuruh, bersamaan dengan kecepatan sapi yang sedang
berpacu.
Suasana
yang demikian itulah, menjadi salah satu daya tarik luar biasa. Karena dalam
arena ini, yang dipertontonkan adalah ketangkasan, ketangguhan, keuletan,
kegigihan dan kelihaian untuk menjadi yang tercepat dan terdepan. Ekspresi
urakan, kesangaran, hura-hura terekspos begitu nyata. Sebuah kompetisi yang
menguras semua energi, pikiran, tenaga serta emosional massa.
Dibalik
kemeriahan dalam arena Kerapan Sapi, ada satu makna filosofi yang sangat
mendalam. Yaitu untuk mencapai sebuah tujuan atau cita-cita perlu adanya satu
kekompakan dan kebersamaan. Satu tujuan cita-cita akan tercapai apabila berada
dalam satu komando. Joki merupakan gambaran sang komando dengan mengendarai
sapi tunggangan sebagai alat dalam mencapai tujuan. Dengan melintasi garis
lurus (sapi berlari lurus), dipandu oleh Joki. Diumpamakan, garis lurus
tersebut adalah pengejawantahan agar manusia senantiasa berada dalam lintasan
yang lurus.
Gambaran
Joki sebagai komando diperjelas lagi dengan posisi kaki kiri Joki, diletakkan
di Kaleles (nangkring), sedangkan kaki kanan merangkul di Kaleles yang
melengkung. Ini merupakan gambaran (tipikal) seorang komando (pemimpin) yang
harus berdiri tegak diatas yang dipimpinnya, juga merangkul sekaligus memiliki terhadap
komponen yang dipimpinnya.
Dalam
arti yang lebih lugas, suatu tujuan akan tercapai dan sukses apabila ada
kerjasama, kebersamaan dan kekompakan yang dipandu oleh seorang komando
(pemimpin), yang memiliki, merangkul juga melindungi komponen yang dipimpinnya.
Sang komando dalam menjalankan kepemimpinannya senantiasa melintasi jalan yang
lurus, selalu berada dalam rel kebenaran dan jujur.
Adapun
aksesoris sekaligus sebagai alat batu dalam menjalankan sapi kerapan, ialah :
Kaleles, Pangonong dan ajer. Kaleles berasal dari bahasa jawa “leles”,
yang berarti mengambil sisa. Makna dari Kaleles adalah, seorang komando
(pemimpin) harus mendahulukan kepentingan yang dipimpinnya, barulah komando
mengambil jatah (sisa) dari bawahannya. Pangonong merupakan pedoman dan Ajer
adalah bendera yang akan menjadi tanda sekaligus pemacu semangat. Berkibarnya
bendera, adalah gambaran meluapnya semangat dalam meraih suatu tujuan
cita-cita.
Dalam
even-even tertentu pelengkap kemeriahan pentas rakyat Kerapan sapi, biasanya
diadakan bermacam-macam pertunjukan kesenian dan ketrampilan. Diantaranya
adalah tarian
massal “Tari Pecut”. Tarian ini menggambarkan sebuah ungkapan kegembiraan serta
rasa terima kasih para pemilik sapi yang telah berhasil menjadi pemenang. Dan
dalam acara tersebut, juga didemonstrasikan ketrampilan sapi betina, yang biasa
disebut dengan “Sapi Sono’”. Dalam atraksi ini, sepasang sapi betina akan
mempertontonkan kemampuannya memasuki sebuah arena, dengan memanis-maniskan
diri, berjalan sambil berjoget serta mengangkat kaki bersamaan ke atas papan.
Kerapan
Sapi, Trade Mark Madura
Pada
masa lampau dalam sebuah desa, ada beberapa warga yang memelihara sapi kerapan.
Dalam setiap event perlombaan senantiasa melibatkan rumpun keluarga sebagai
pendukung dana. Dana yang dikeluarkan untuk pembiayaan selama perlombaan,
menjadi tanggung jawab bersama. Pada masa sekarang hanya orang-orang tertentu
saja yang mampu memelihara sapi kerapan. Hal itu disebabkan oleh biaya
pemeliharaan yang sangat mahal. Belum lagi biaya ketika sapi-sapi tersebut
berlaga dalam sebuah arena. Semua biaya dalam proses tersebut langsung di
tanggung oleh pemilik sapi, biaya makan, biaya musik pengiring, biaya
transportasi dan sebagainya. Maka tidaklah mengherankan, kalau saat ini hanya
orang-orang berduit, ataupun para pejabat saja yang mampu memelihara Sapi
Kerapan.
Walaupun
demikian Kerapan Sapi tetap merupakan sebuah pesta rakyat dan mampu menyedot
perhatian rakyat di dataran pulau Madura. Hal itu dapat dilihat, setiap event
perlombaan yang diadakan di tingkat Kecamatan, Pembantu Bupati, Kabupaten atau
pun tingkat Madura senantiasa dibanjiri oleh penonton dari semua lapisan
masyarakat. Masyarakat dari berbagai kalangan, tumpah ruah, berbondong-bondong
mengeluh-elukan sapi yang berasal dari daerahnya. Hal itu disebabkan adanya
ikatan emosional yang kuat antara peserta dan penonton yang berasal dari satu
wilayah. Tak mengherankan apabila ajang Kerapan Sapi dijadikan simbol status
sosial. Selain itu Kerapan Sapi mampu membangun kebersamaan, mempertautkan
kembali tali silaturrahim serta menaikkan pamor suku bangsa Madura.
Kerapan
Sapi telah menjadi identitas, trade mark dan simbol keperkasaan. Di sektor
pariwisata, Kerapan Sapi merupakan pemasok utama Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah. Karena dari sektor ini, para wisatawan manca negara maupun wisatawan
domestik mengeluarkan koceknya, membeli karcis untuk menonton keperkasaan,
kelincahan, kecepatan laju sapi, sekaligus menyaksikan kepintaran, kecekatan,
kelihaian, kepiawaian para Joki ketika mengendalikan sapi tunggangannya.
Setiap
tahun ada acara puncak Kerapan Sapi yang diselenggarakan sekitar bulan Agustus
atau September. Acara tahunan tersebut merupakan event paling bergengsi karena
memperebutkan piala bergilir dan piala tetap Presiden. Dalam event itu,
masing-masing Kabupaten dalam wilayah Madura mengirimkan pasangan sapi
terbaiknya. Adapun Sapi Kerapan yang berhak berlaga dalam arena bergengsi
tersebut, merupakan hasil seleksi yang ketat dari masing-masing wilayah
Kabupaten. Dengan demikian, pasangan sapi kerapan adalah duta dari
masing-masing Kabupaten, yaitu Bangkalan,
Sampang, Pamekasan dan Sumenep.(Lontar madura)
Macam-macam Karapan Sapi
- Kerrap Keni (Karapan kecil)
merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kecamatan
saja dengan jarak tempuh sekitar 110 meter. Pemenangnya berhak untuk
mengikuti even karapan yang levelnya lebih tinggi lagi.
- Kerrap Rajah (Karapan besar)
merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kabupaten saja dan
pesertanya adalah dari para juara Kerrap Keni dengan jarak tempuh sejauh
120 meter.
- Kerrap Karesidenan (Gubeng)
merupakan karapan sapi yang levelnya tingkat karesidenan yang
diikuti oleh juara-juara dari empat kabupaten di Madura. Tempatnya adalah
di Bakorwil Madura yaitu di kabupaten Pamekasan dan tepatnya pada hari
Minggu yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim karapan.
- Kerrap Onjangan (Karapan
undangan) merupakan karapan sapi khusus yang pesertanya berasal
dari undangan suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Karapan ini
biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu atau
peringatan syukuran dan sejenisnya.
- Kerrap Jar-ajaran (Karapan
latihan) merupakan karapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi
kerap sebelum turun ke even yang sebenarnya.
Karapan Sapi dalam penentuan juaranya adalah di ambil masing-masing 3
Juara, yaitu 3 juara dari golongan menang dan 3 juara dari golongan kalah.